Kamis, 12 Februari 2009

Rambut Indah Bagaikan.......

Jujur ngga ada maksud untuk menjadikan ini menjadi kebiasaan, tapi kira- kira setaun yang lalu, bagaikan dapet wangsit, gw langsung berteguh hati untuk memotong rambut gw. Langsung order model BCL (hip pada masa tersebut) ke Mas Mono, Mas Mono dengan luwesnya mengacak-acak rambut gw pake guntingnya. Hasilnya...memuaskan...tapi emang dasar nasib rambut kiting yah, begitu kena aer kan langsung kembali ke asal muasalnya. Untung gw punya life savior, the catokanz, hair straightener oleh- oleh dari nyokap waktu iseng ke Mangga Dua. Nah berkaitan dengan hal tadi, tahun ini tepat di bulan yang sama, dorongan tadi dateng lagih, kebetulan???? Yaudah deh ngga usah sok mistik, begitulah kiranya kataku dalam hati.

Tanpa banyak pertimbangan, gw samperin Mas Mono, order model pendek...ehm..modelnya..yah yang jaman sekarang ajalah. Hasilnya....kok agak lebih pendek dari taun lalu yah..hmm..ah bodo deh..toh di rumah ada catokanz untuk mencegah kekitingan. Diriku pun berlalu dari tempat Mas Mono, senang hati karena ngga gerah dan ngga perlu repot nguwel-nguwel rambut ala juminten lagi. Tinggal denger apa kira- kira komen orang, not that it's important or anything, but sometimes their words are some sort of matter. Yea I know it's shallow, condescending, and pathetic, but for insecure soul like mine, this thing works that way, I'm not proud of it, beeelieve meee.

Sebagai anak baru di kantor, gw emang ngga berharap orang- orang untuk menyadari perubahan gw. Tapi ternyata...banyak juga yang ngeh, mereka ngga berkomentar banyak, cuman sekadar "Ih rambutnya jadi pendek" atau "Ya ampun lucu banget, jadi tambah 'ndud"
Semua masih gw terima dengan baik dan lapang dada. Tak dinyana, satu komentar datang menyergap
"Eh kamu,...kamu pake wig ya???"
Loh kok gw jadi dikira pake wig, apa rambut pendek kiting gw yang dicatok ini kelihatan seperti wig yah??Jangan- jangan, orang ngeliat gw seperti itu. Nah liatkan betapa labilnya gw, memalukan.
Tapi pertanyaan...menyebalkan tadi gw jawab "Aaa..Ngga.." dengan polos plus muka kaget (karena emang ngga nyangka bakal dilempar pertanyaan seperti itu).

Komentar paling dalem gw dapet dari Hancut. Ternyata Hancut dan gw mengenal satu manusia yang sama, salah satu aset Tuhan di dunia, yang kebetulan dipanggil Tuhan lebih dulu. Hancut sempet diam dan merhatiin gw, sambil mengamati dia bilang "Iya ih, lama- lama kalo dilihat lo mirip Bey. Cerewetnya juga mirip". Hahaha, lucu loh denger komen seperti itu, antara tersanjung dan miris, dan seakan- akan muka Bey muncul dan suara Bey terngiang- ngiang di kepala gw. Reflek, gw pasang muka cengengesan, sempet lupa bagaimana berakting cool, akhirnya lanjut terus dengan cengengesan.

Hari itu di kantor ditutup dengan komentar yang dilempar dengan manisnya dan ikhlasnya dari Ibu Tati. Ibu berjilbab yang harum selalu ini ketemu gw di tempat wudhu. Begitu selesai berwudhu, dia agak kaget melihat gw yang ngantri di belakangnya, responnya instan dan segar
"Alhamdulilaaaahhh cantiknyaaaa. Kamu cantik sekali loh diginiin, bener deh. Alhamdulilah, bagusan gini, seger, jadi cantik, bener loh"
Ya ampun, enak banget dengernya. Komentar terakhir ini bener- bener matiin komentar rambut wig tadi, hah beat that sucker! Langsung gw berterima kasih dan tidak lupa memanjatkan doa buat Bu Tati. That kind of compliment doesn't come quite often y'know.

Oh, ampir lupa, satu yang bikin gw mengernyitkan alis karena agak ngga percaya, Dio bilang rambut gw bagus. Hmm..kira- kira apa yang bikin dia jadi se-open minded ini yah? Masa segitu spektakuler bagusnya rambut gw sampe- sampe seorang Dio pun setuju dengan Bu Tati. Hmm..pendapatnya emang bukan segalanya buat gw, tapi emang ada secercah harapan dari gw, mudah- mudahan dengan begini tandanya Dio membuka pikirannya, dan berubah menjadi Dio yang....asik.

Pengakuan akan penampilan emang penting sekaligus cetek, tapi hari itu gw mendapat lebih dari sekadar pengakuan. Hari itu lucu aja buat gw. Gara- gara rambut gw jadi nambah teman di kantor, bahkan orang yang blom pernah ngomong ama gw sampe komen gw pake wig, terus gw bisa "ketemu" Bey lagi, ngerasain dapet pujian lagi setelah super lama banget ngga dapet pujian, dan bisa denger apa yang pengen gw denger dari seorang Dio.

Kamis, 05 Februari 2009

The Cheese


Few days ago I took the liberty to stroll down the memory lane. The occasion was simple, delivering the unimportant CD, filled with requested songs, to a friend at the old office. Well, you probably wondering why I took this matter as such a burden. I don't talk about it in this blog because the less you talk about it, the less important it becomes.

Let's just say I resigned in pretty bad situation, what's me without a conflict, right. Anyhow, I got there and most of people were already went home. Eventually there were 3 of us, talking non sense, making jokes, and watching half of Bolt. And when we realized time did flew by, we set ourselves to go. Right before I walked out of that place, I found myself walking around my old desk, looking around the place, how that place once made me a whole. It was my second home, my cheese labyrinth, my comfort zone.

However, far before the conflict occurred, something stroke me..I got to get out of here. I was too convenient, my surrounding there was too pleasant. Something inside me refuse to take another time nestling in there. It woke me up, I was sensible enough to see my work there was done as the work had me done as well. It was just something I had to do.

Guess that guy who wrote Who Moved My Cheese is right after all. To tell you the truth, I haven't read the book, yea can't figure out why but I can't read motivational readings. Maybe because they are all describe in rigid contents, put some colors, curves, and pictures, then my brain will able to digest, though the book tells in parable. The moral point is at some point you have to make drastic change, for your own good. That consciousness in you snaps you out, telling you to make a turn, fear is inevitable but eventually you will get to your senses. Just step up, changes are necessary. But that's not the important thing, the big question is how do you deal with the change. And no, this is not Mario Teguh talking, just plain old silly girl.

In my case, uhm..yea I'll get my niche. You'll see.

Selasa, 20 Januari 2009

Magnificent...Eight

Dari delapan perempuan ini, dua kesamaan mereka, mereka kuat, dan mereka sahabat gw. Sepanjang persahabatan kami, they are the embodiment of the phrase "dying is easy, living is hard". Walaupun mungkin tadi itu sedikit gw dramatisir (cuma sedikittttt)...pada intinya mereka hebat..yang ini mungkin sedikit subjektif.....bodo amat!

Mereka punya apa yang gw ngga punya, yaitu prinsip. Sebagai orang yang ngga punya prinsip, bersahabat dengan orang berprinsip itu menjadi pengalaman yang sangat berharga buat gw. Gw dikritik, diberdirikan untuk dijatuhkan lagi, tapi pada akhirnya gw dihargai dengan tulus dan ikhlas. Gw selalu berada di bawah mereka, mereka selalu lebih pintar, lebih baik hati, lebih hidup, dan lebih optimis. Sejujurnya, sangat menyenangkan menjadi ikan kecil di dalam kolam bersama ikan- ikan besar. Selalu ada kritikan dan inspirasi baru, cambukan yang membuat gw berpikir untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari sekarang.

Satu hal yang gw pelajari baru- baru ini, kita bisa menemukan refleksi diri kita di sahabat- sahabat kita. Satu garis besar yang menggambarkan mereka semua, ya itulah siapa diri kita sebenarnya.

Senin, 19 Januari 2009

Sebuah tulisan:

Uughh..saya sudah berjanji tidak akan memikirkan hal ini lagi, ups..saya baru saja berbohong,..ehem ehem..saya sudah berjanji tidak akan memikirkan orang itu lagi. Satu menit bersamanya adalah satu jam pertarungan antara logika dan perasaan, rasanya.....sangat melelahkan. Coba kali itu semua dengan delapan tahun, hasilnya...pembunuhan karakter.

Tapi, di sinilah saya berada, menunggunya, entah akan kemana kita nanti. Satu yang pasti, saya sangat ingin melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Ahhhh menyedihkan, manusia yang menyedihkan, tidak ada manusia sebodoh saya. Sekarang coba pikir, mana ada manusia yang mengulangi kesalahannya beratus- ratus kali, mana ada manusia yang tidak belajar dari kesalahannya sendiri, mana ada manusia.......yang sebodoh saya.

Itu dia datang, hmm sosok itu...yang dulu sangat saya puja. Mungkin sekarangpun masih, mungkin tidak sebesar dulu, mungkin tidak akan hilang, mungkin dia tidak pernah tahu betapa berartinya dia di hidup saya, mungkin dia tahu tapi memilih untuk tidak tahu. Dia duduk di samping saya, memandang wajah saya sembari menunggu kata- kata yang datang dari mulut saya. Saya memilih untuk diam. Dia berkata tentang sesuatu tapi saya hanya memandang raut mukanya...mencari cela. Dia bercerita tentang hari ini, seperti biasa....saya mendengarkan. Pikiran saya mengalir....kapan saya mempunyai keberanian untuk menyayangi diri saya sendiri daripada menyayanginya? harus bagaimana lagi agar membuatnya mengerti, bahwa saya tidak menginginkan ini, saya harus menyembuhkan diri saya, saya butuh waktu, saya butuh diri saya.

Seketika itu, alam bawah sadar membuat saya tertawa, meninggalkan tanda tanya di wajahnya. Dia tidak bertanya, hanya melihat saya dengan pandangan tersesat, sedikit tersinggung namun penuh pertanyaan. Saya juga bingung harus bilang apa. Akhirnya keluar kata- kata...
"Ini konyol"
diikuti dengan..
"Ini tidak harus terjadi, salah saya, saya terlalu romantis"
"Maaf..saya harus pergi, tolong bantu saya..dan bantu dirimu juga, waktu tidak akan mengubah apa- apa...berbuat sesuatulah yang akan mengubah semuanya. Saya akan menjauhi dirimu, menjauhkan kamu dari hidup saya, saya harus melakukan ini...kamu bukan untuk saya".

Entah apa yang merasuki saya tapi rasanya seperti bangun dari tidur panjang. Belum terasa lega. Satu yang saya tahu pasti, saya memilih untuk merangkul hati saya yang sakit, dan memeluknya untuk saya sembuhkan.

Selasa, 05 Agustus 2008

My Secret for The Secret

Bermula dari obrolan gw ama Hengky, sembari menunggu kehadiran Elson, kita ngobrol ngalor ngidul, mulai dari gw memberi usul supaya Hengky jadi Chippendale sampai ke metal opera (which is BTW, the most complicated music, coming from me it's not a compliment). Pas di tengah- tengahnya terselip obrolan tentang The Secret, it's some kind of documentary regarding the great Law of Attractions (It comes in DVD and book, mostly contained experts' testimonials). Hengky believes in everything it says, he even told me his "The Secret" moment.

Alkisah si Hengky ini sangat sangat menginginkan yang namanya iMacBook dan memang pada akhirnya dia "mendapatkan" MacBook ini. Jadi ternyata waktu dia menginjakkan kaki ke kantor kami untuk pertama kali, Big Boss handed him his MacBook.....as in lend him. Other story, story goes he was planning on going to Bandung, words said that the traffic is awful and depressing but he sticked on going there after all. Through out his way to Bandung, he bend his mind on empty and unoccupied road..and voila....his wish all came true.

The thing about The Secret is that we probably already have heard about the concept. Start your day with positive insights, focus on happy thought, and the rest of the universe will led you to positivity, it also applicable in opposite way. We familiar with the concept but have never assuredly carry it out. But what I told him was, before The Secret unveiled the secret, I honestly knew and aware with the theory, the only thing that keep me from doing it intensely is my perception on Law of Attraction. Because I tend to keep my expectation in moderate level but surely assured, I'm a half full kind of person. Putting myself in this area is pretty much put the down side of the matter in the picture. In many cases, for me effort and submission work much well than personifying positivity. As a result, I will be relief and grateful if I eventually attain the goal, but I will be sincere if I failed.

Remember when I was blabbering about this cruel city? Well, my sister insisted me to go to Singapore with her. The thought of going away from here was fantastic, but reality check, I have job and datelines, what I don't have was money. So, the plan was drifting..didn't sure on going or not going...even though I said Yes to my sister, it was half hearted. Like that was not enough, there was some complication during the ticket booking...hah...maybe it's God's way of saying "I don't let you", however we continued looking for alternative ways. Turned out, well let's just say we had sponsor...and to sum up...tickets were in hand, clothes were all packed, accommodation was set, and off we go. Sorry to say, but that was submission. I'm not against it..but...well maybe I'm just haven't profoundly comprehend the concept.

Rabu, 09 Juli 2008

Me and The Freakin' City


Di salah satu episode di Sex and The City, Carrie menganalogikan kalo hubungan dia dengan New York tak ubahnya seperti hubungan dia dengan laki- laki. Ceritanya New York ngga pernah mengecewakan dia, New York is so full of life, romantic, and untamed. At the last minutes of the episode, New York was acting out, unexpected events came all of a sudden...Guggenheim Museum suddenly closed in the middle of the day, heavy rain, people all yelling, and she was rudely shoved onto "single" seat at this diner counter.

You know what, that's exactly what I'm having lately...I can't believe I'm going to say this but Jakarta sucks. Sangat, sangat tidak adil kalo gw menyalahkan semuanya ke Jakarta, yang sebenernya ini sama sekali bukan salah si kotanya, masyarakatnya aja yang OOS (Orang-Orang Sinting, ehem). Dari sekian banyak faktor negatif tentang Jakarta, cuma satu yang mau gw ributin....lalu lintas!!

The last few days, ever since I got out of the hospital and finally able to seat my a** on the wheel, every morning the traffic irritated me. The slit-my-wrist traffic, itulah sebutannya..lalu lintas yang diisi dengan orang- orang yang sebenarnya ngga tau (atau ngga peduli) dengan aturan di jalan. Mungkin belagu banget yah kedengarannya..kayak gw orang yang bener aja, but please what kind of idiot who do Sunday driving on Monday morning, or running 40 km/h on the right lane, crossing the street when the light turns green, crazy ignorant biker who speed up opposing the current with no helmet and lights. Begitu menyebalkannya, gw sampe berpikir untuk pindah dari Jakarta..

Kalo gw me-relevansi-kan analogi Carrie, mungkin bisa dibilang gw menemukan satu cela di pacar gw dan tanpa kompromi gw memilih untuk meninggalkan dia. Di alam nyatanya sih, pemikiran tadi bukan gw banget...setidaknya sejak tahun 1998 deh. So, what do you think people, should I give him another try? or I'm just being..you know...drama diva.

Senin, 07 Juli 2008

Divine Power Called Time

Recently I said something to my sister, something true and even though I'm the one who said it, it kind of hit me. Witnessed by a cousin of ours, without hesitation I said life after age 23 goes in nano second. And apparently the cousin justified that, she said "That's so true, hmm....I wonder why".

Dulu waktu jaman kuliah, seorang teman pernah bertanya bagaimana liburan semester saya (kebetulan waktu itu memang sedang libur semester), yang lalu saya jawab "Cepet banget, masa tiba- tiba kita udah mao masuk lagih!". Lalu teman saya menjawab "Itu tandanya lo banyak kegiatan waktu libur, jadinya ngga kerasa", dilanjutkan dengan "Ooowww" saya yang panjang, lengkap dengan muka plongo'-nya. Ketika saya minta klarifikasi dari mana dia bisa menyimpulkan itu, dia bilang inilah yang namanya mind games, lagi- lagi diikuti dengan "Ooowww" dan muka plongo' saya.

Isn't it ironic? While we're busy making our life little worth, we unwittingly let years goes by...right under our nose.