Begitu banyak rencana perjalanan gw bikin, lokal ampe melipir ke negeri orang. Menabung dimulai dari sekarang, walaupun sebenernya ide menabung ini sedikit bikin gw ketawa, gw lagih disuruh nabung..udahlah seadanya ajalah yang ditabung. Dan ketika semua tengah direncanakan dengan baik...sialan...passport gw abis..dan oh ada lagi...KTP gw kan ilang, AAAHHHHHH!!!!!Oke..oke..ga perlu pake drama, ke kantor polisi bikin surat laporan kehilangan, ke Kelurahan bikin yang baru, tunggu sampe KTP jadi, lalu ke Imigrasi...okehhh...nicely planned. Itu sudah sebulan yang lalu, progress so far?? I've got the (pictureless) ID.
Ada apa dengan setumpuk rencana ini? Kenapa bisa jadi setumpuk? Sebegitu gerahnya kah gw dengan kota ini? Ternyata iya, gw ga menyalahkan si kota atau si masyarakat, atau pun si atmosfer kotanya. Mimpi gw adalah, memulai hidup baru (yang lebih baik) di tempat jauh (yang lebih baik), ya ampun...abad kini banget sih mimpinya, mandiri dan modern. Tapi masalahnya tiap kali gw memimpikan hal ini, gw juga memimpikan diri gw sekitar 20 cm lebih tinggi, 10 kilogram lebih ringan, sepuluh kali lebih pintar, 3 kali lebih berwajah manis, dan sejuta kali lebih kaya....jadi ini apa namanya???? Ya asli beneran mimpilah ini namanya.
Old habit die hard..hmm...terus terang ada sedikit ketakutan di pala gw. Apa jadinya kalo gw nanti ga bisa menerima kenyataan yang ada? Atau apa gw bisa memenuhi apa yang gw impikan? Ya okey lepas dari angan- angan 'tuk bertransformasi jadi Miss Venezuela...tapi apa kiranya gw sanggup untuk berdiri sendiri di tanah asing? Pertanyaan itu sendiri membangkitkan antusiasme buat gw, apa nih, apa lagi, kira- kira apa yang bisa gw bawa ke sana? bawa bekel apa yah? Ini yang gw dapet, bekal gw untuk hidup kelak di tanah asing itu bukan cuma berisi apa yang gw dapat di tanah asal, mungkin untuk saat ini gw survey dulu...ga perlu jauh- jauh..cukup cakupan asia, di mana atmosfer tradisi dan kekeluargaan masih tercium manis. Belum lagi harga tiket yang masih di bawah 10 juta, visa yang terjangkau, dan bebas fiskal.
Dan selama "survey" ini berlangsung, mari kita serap ilmu sosial dan kemasyarakatannya...apa yang akan gw makan nanti? Cari duit dari mana gw nanti? Kira- kira orang- orangnya asik ga yah dijadiin temen? Akan jadi apa gw di sini nanti? Dan serentetan pertanyaan mendalam dan cetek lainnya.
Pernah beberapa kali gw mendengar orang lain berkata "Dreams come true to those who believe" atau "If you believe in yourself anything could happen", kata- kata klise yang maknanya sedalam lautan. Gw ingin - dan harus - menjadi salah satu orang yang bisa berkata demikian, supaya orang- orang seperti gw bisa ketampar dan bangun dari bengongnya.
Kamis, 02 Juli 2009
Jumat, 05 Juni 2009
From The Margin
My rationalization is that I don't have role model for love and relationship. All I have is what I've been going through all my years, no one told me it's going to be hell of a ride. Uneasy part has not yet over..still I'm entrap in twisted thoughts between what's real and what's not. Boring and tragic, I know. Truth is, I don't have the guts taking the reality pills of "Quit searching for the easy, mind-blowing, true-love story, it’s an illusion.”
Ahhh God..But it's so good to dream, don't you think?
Ahhh God..But it's so good to dream, don't you think?
Senin, 01 Juni 2009
Tidak Sempurna
Gw tidak berniat membicarakan hal- hal yang positif tentang dia, untuk yang ini gw yakin semua udah tau. Pada kenyataannya, gw malah lebih sering teringat yang negatif- negatifnya. Entah apa sebabnya, sejak dari jaman SMA, anak ini punya pengaruh kuat terhadap gw. Dan entah kenapa, kok gw begitu patuh dan memandangnya dengan hormat.
Perempuan ini bilang bahwa cukur alis itu bentuk transformasi yang kudu hukumnya. Ketika diaplikasikan ke gw...hmm...untuk beberapa lama gw menerima perubahan itu. Sesudah itu...tiap kali ngaca...alis gw kayak cuma digambar pake rotring 0.1. Oke, perubahan pertama, gagal dengan sukses.
Sikap dan perilakunya sangat dewasa untuk takaran anak SMA. Pembawaan yang begitu percaya diri dan langkahnya yang mantap, dia memiliki karakter kuat, yang menarik sekali untuk dieksplor lebih jauh. Dia memperkenalkan dunia yang baru di mata gw, yang selama ini hanya sampai ke kuping gw dan meninggalkan keragu- raguan dan penasaran khas remaja bau kencur. Kami sempat menikmatinya untuk beberapa lama, sampai akhirnya kita berdua berpikir sayang sekali kalo masa ini dihabiskan di dunia yang baru pantas kita selami tiga atau empat tahun lagi.
Gw sempat berpikir dia bukan orang yang tepat untuk tempat berkeluh kesah. Sarannya selalu tanpa basa- basi, lugas, bahkan kadang menyakitkan. "Heran, ini orang sebenarnya tau yang namanya empati ngga sih? Gw ini temennya, punya rasa simpati sedikit kenapa sih". Begitu tuh yang ada di kepala gw, setiap selesai bercurhat- curhatan.
Tiap kali gw lari dari rumah, gw lari ke dia. Dia lari dari rumah, dia lari ke gw. Kita berdua sama- sama merasa ngga dihargai di rumah sendiri. Kita cuma bisa saling cerita, ngga berharap banyak untuk dapetin solusi, selama kekesalan kita keluar dari dada. Memang, kita melampiaskannya dengan cara yang salah, tapi terus terang..dia mencetuskan cara yang radikal, kampungan, nekat, tapi manjurnya lumayan terasa. Metode ini meninggalkan bekas luka permanen di tangan gw.
Sikap kerasnya secara tidak langsung menciptakan tembok antara dia dengan teman- teman yang lain. Tidak banyak yang menyukai kepribadian seperti ini tapi dia ngga peduli. Dia punya tujuan, dia punya otak, dia fokus, dan dia tahu dia akan mencapai tujuannya. Di saat orang- orang sibuk menciptakan citra diri buat eksistensi, dia sibuk berpikir untuk masa depannya. Buat gw ini aneh, perbedaaan prinsip ini yang membuat kita perlahan jauh.
Tapi jelas terlihat kan siapa nantinya yang menuai buah lebih manis? Kita menjauh mungkin agak lama tapi ketika kita ketemu lagi..ternyata dia masih ngga berubah. Tekadnya itu loh, masih melekat kuat, dia ngga berhenti punya cita- cita, selalu punya tujuan baru, dan selalu fokus. Ambisinya sempat membuat gw sedih, karena gara- gara hal itu gw dikesampingkan, memang dari dulu dia sudah begitu. Di saat- saat terakhirnya, dia kelihatan begitu bahagia, gw belum pernah melihat dia begitu..ikhlas. Akhirnya dia menemukan sesuatu yang dia cintai.
Gw belum pernah ngerasain rasa kehilangan yang seperti ini, jadi ini rasanya ditinggal sahabat. Ketawanya yang aneh, suaranya yang keras, dia suka dengan sengaja mengeluarkan suara aneh dari hidungnya walaupun jelas- jelas dia tau gw benci suara itu, dua tahun lalu dia pergi tapi semuanya masih terekam jelas di benak gw. Sampai detik ini pun gw masih belum percaya gw ngga akan bisa mendengarnya lagi.
Segala keanehannya, segala masalah yang dia timbulkan, segala kesedihan dan keputus asaan yang kita saling curhatkan, semua ini yang membuat gw menerima dia sebagai dirinya. Semoga kalian bisa menerima ketidaksempurnaannya, sebagaimana gw menyayangi ketidaksempurnaannya yang indah.
Perempuan ini bilang bahwa cukur alis itu bentuk transformasi yang kudu hukumnya. Ketika diaplikasikan ke gw...hmm...untuk beberapa lama gw menerima perubahan itu. Sesudah itu...tiap kali ngaca...alis gw kayak cuma digambar pake rotring 0.1. Oke, perubahan pertama, gagal dengan sukses.
Sikap dan perilakunya sangat dewasa untuk takaran anak SMA. Pembawaan yang begitu percaya diri dan langkahnya yang mantap, dia memiliki karakter kuat, yang menarik sekali untuk dieksplor lebih jauh. Dia memperkenalkan dunia yang baru di mata gw, yang selama ini hanya sampai ke kuping gw dan meninggalkan keragu- raguan dan penasaran khas remaja bau kencur. Kami sempat menikmatinya untuk beberapa lama, sampai akhirnya kita berdua berpikir sayang sekali kalo masa ini dihabiskan di dunia yang baru pantas kita selami tiga atau empat tahun lagi.
Gw sempat berpikir dia bukan orang yang tepat untuk tempat berkeluh kesah. Sarannya selalu tanpa basa- basi, lugas, bahkan kadang menyakitkan. "Heran, ini orang sebenarnya tau yang namanya empati ngga sih? Gw ini temennya, punya rasa simpati sedikit kenapa sih". Begitu tuh yang ada di kepala gw, setiap selesai bercurhat- curhatan.
Tiap kali gw lari dari rumah, gw lari ke dia. Dia lari dari rumah, dia lari ke gw. Kita berdua sama- sama merasa ngga dihargai di rumah sendiri. Kita cuma bisa saling cerita, ngga berharap banyak untuk dapetin solusi, selama kekesalan kita keluar dari dada. Memang, kita melampiaskannya dengan cara yang salah, tapi terus terang..dia mencetuskan cara yang radikal, kampungan, nekat, tapi manjurnya lumayan terasa. Metode ini meninggalkan bekas luka permanen di tangan gw.
Sikap kerasnya secara tidak langsung menciptakan tembok antara dia dengan teman- teman yang lain. Tidak banyak yang menyukai kepribadian seperti ini tapi dia ngga peduli. Dia punya tujuan, dia punya otak, dia fokus, dan dia tahu dia akan mencapai tujuannya. Di saat orang- orang sibuk menciptakan citra diri buat eksistensi, dia sibuk berpikir untuk masa depannya. Buat gw ini aneh, perbedaaan prinsip ini yang membuat kita perlahan jauh.
Tapi jelas terlihat kan siapa nantinya yang menuai buah lebih manis? Kita menjauh mungkin agak lama tapi ketika kita ketemu lagi..ternyata dia masih ngga berubah. Tekadnya itu loh, masih melekat kuat, dia ngga berhenti punya cita- cita, selalu punya tujuan baru, dan selalu fokus. Ambisinya sempat membuat gw sedih, karena gara- gara hal itu gw dikesampingkan, memang dari dulu dia sudah begitu. Di saat- saat terakhirnya, dia kelihatan begitu bahagia, gw belum pernah melihat dia begitu..ikhlas. Akhirnya dia menemukan sesuatu yang dia cintai.
Gw belum pernah ngerasain rasa kehilangan yang seperti ini, jadi ini rasanya ditinggal sahabat. Ketawanya yang aneh, suaranya yang keras, dia suka dengan sengaja mengeluarkan suara aneh dari hidungnya walaupun jelas- jelas dia tau gw benci suara itu, dua tahun lalu dia pergi tapi semuanya masih terekam jelas di benak gw. Sampai detik ini pun gw masih belum percaya gw ngga akan bisa mendengarnya lagi.
Segala keanehannya, segala masalah yang dia timbulkan, segala kesedihan dan keputus asaan yang kita saling curhatkan, semua ini yang membuat gw menerima dia sebagai dirinya. Semoga kalian bisa menerima ketidaksempurnaannya, sebagaimana gw menyayangi ketidaksempurnaannya yang indah.
Rabu, 20 Mei 2009
I'm Not a Grinch!!
Tanggal 6 Mei yang lalu..genap setaun blog ini gw bikin. Posting-annya cuma 12 ajah...selama 12 bulan cuma ada 12 posting yang gw buat. Ada apa dengan kepala gw sih? Kok cuma bikin 12 biji, sedangkan orang- orang yang pada punya blog kayaknya sampe punya bejibun hal untuk diceritain. Sebenernya, bukannya hidup gw garing juga sih...tapi ternyata susah juga men-sorting apa- apa aja yg mesti gw ceritain di sini. Mao tau apa isi kepala gw yg sebenernya??
Hmm...kebanyakan keluh dan kesalnya. Saking banyaknya, orang akan mencaci maki gw kali. Manusia kok kerjaannya sedih mulu, meratapi rejeki sendiri dan membandingkannya dengan rejeki orang, kalo pikiran gw bisa ngomong..dia bakal terus berseru "Whyyy Gooodddd???Whyyyy????". Ihhhh...menyedihkan banget!!
Kemana ilangnya semangat gw yah??Hal apa yang menyedot percaya diri gw ampe garis nol?? Beberapa waktu yang lalu, gw sempetin waktu untuk berintrospeksi...kira- kira dari mampang sampe perempatan Kuningan di kala macet (hehehhe). Hasilnya sampai pada kesimpulan: gw rasa ada yang jampi- jampiin gw nih! *halaaahhh nyalahin orang lain. Tapi serius nih, memang ada sesuatu di masa lalu, di rentang waktu antara hari ini dengan hari dimana gw masih belom kenal yang namanya sakit hati, sesuatu memang terjadi. But I mean c'mon, broken heart can't be that bad, right. Kesalahan bukan pada kejadiannya, bukan pada penjahat yang melakukan ini ke gw, kesalahan ada pada gw, diri gw sendiri.
Gw jadi teringat kata Leonardo, leader of Teenage Mutant Ninja Turtle pack (yea I know, I'm quoting a talking giant turtle, but he has good point here), he said "Funny thing about anger, let it consume you and soon enough you lose all sight". Dan itu fakta, sikap pasrah gw terhadap rasa sakit itu yang bikin gw luntang lantung ga karuan. Menjadikan gw selama itu menari dengan putus asa, dengki, dan marah. Hasilnya jelas kan...ide- ide gw tersumbat, lebih fokus terhadap hal- hal yang tidak gw miliki daripada hal- hal yang ada di depan mata, sosialisasi gw terganggu, dan yang lebih parah..gw jadi ga sayang ama diri gw sendiri.
Ahhhh..ternyata banyak banget bagusnya menjadi orang yang tersakiti, apalagi kalo orang itu ternyata survive. Gw memang belom sampai pada taraf terselamatkan dengan sukses, tapi dari waktu ke waktu, di saat gw jatuh dan lalu bangun lagi, ada satu dua hal yang pasti membuat gw tersadar dan menumbuhkan tekad baru. Pertama..Alhamdulilah gw masih punya agama dan iman. Kedua, peran keluarga dan sahabat, mao seajaib apapun gw, orang- orang ini yang ikhlas menerima gw di pelukan mereka. Terakhir, gw waras dan gw pasti bisa.
Simpel bangetkan jampi- jampinya? Tapi ini manjur, semanjur minum jahe panas seember di saat masuk angin!
Hmm...kebanyakan keluh dan kesalnya. Saking banyaknya, orang akan mencaci maki gw kali. Manusia kok kerjaannya sedih mulu, meratapi rejeki sendiri dan membandingkannya dengan rejeki orang, kalo pikiran gw bisa ngomong..dia bakal terus berseru "Whyyy Gooodddd???Whyyyy????". Ihhhh...menyedihkan banget!!
Kemana ilangnya semangat gw yah??Hal apa yang menyedot percaya diri gw ampe garis nol?? Beberapa waktu yang lalu, gw sempetin waktu untuk berintrospeksi...kira- kira dari mampang sampe perempatan Kuningan di kala macet (hehehhe). Hasilnya sampai pada kesimpulan: gw rasa ada yang jampi- jampiin gw nih! *halaaahhh nyalahin orang lain. Tapi serius nih, memang ada sesuatu di masa lalu, di rentang waktu antara hari ini dengan hari dimana gw masih belom kenal yang namanya sakit hati, sesuatu memang terjadi. But I mean c'mon, broken heart can't be that bad, right. Kesalahan bukan pada kejadiannya, bukan pada penjahat yang melakukan ini ke gw, kesalahan ada pada gw, diri gw sendiri.
Gw jadi teringat kata Leonardo, leader of Teenage Mutant Ninja Turtle pack (yea I know, I'm quoting a talking giant turtle, but he has good point here), he said "Funny thing about anger, let it consume you and soon enough you lose all sight". Dan itu fakta, sikap pasrah gw terhadap rasa sakit itu yang bikin gw luntang lantung ga karuan. Menjadikan gw selama itu menari dengan putus asa, dengki, dan marah. Hasilnya jelas kan...ide- ide gw tersumbat, lebih fokus terhadap hal- hal yang tidak gw miliki daripada hal- hal yang ada di depan mata, sosialisasi gw terganggu, dan yang lebih parah..gw jadi ga sayang ama diri gw sendiri.
Ahhhh..ternyata banyak banget bagusnya menjadi orang yang tersakiti, apalagi kalo orang itu ternyata survive. Gw memang belom sampai pada taraf terselamatkan dengan sukses, tapi dari waktu ke waktu, di saat gw jatuh dan lalu bangun lagi, ada satu dua hal yang pasti membuat gw tersadar dan menumbuhkan tekad baru. Pertama..Alhamdulilah gw masih punya agama dan iman. Kedua, peran keluarga dan sahabat, mao seajaib apapun gw, orang- orang ini yang ikhlas menerima gw di pelukan mereka. Terakhir, gw waras dan gw pasti bisa.
Simpel bangetkan jampi- jampinya? Tapi ini manjur, semanjur minum jahe panas seember di saat masuk angin!
Selasa, 21 April 2009
Stripped

Aaahhh....jadi kepikiran nih, hmm...
Waktu Jo pulang kampung ke Jakarta, gw sempet berujar sesuatu ke dia, sebelumnya kita memang ber-reuni singkat dengan teman satu kuliah kita. Perempuan manis dan santun, layaknya putri keraton (dan ini bukan aksi hiperbola dari gw)...Tess memang begini keadaannya. Hatinya yang baik lah yang menyatukan kita menjadi teman, untuk soal pembicaraan..hmm....memang banyak ngga nyambungnya sih. Well anyhow...kita bertiga bertemu lagi setelah setahun lebih tidak bersua. Ada chemistry aneh antara gw dengan Tess, gw menjadi tidak antusias, obrolan antara gw dengannya bahkan berlangsung garing, gw lebih banyak cengar cengir, dia menyunggingkan senyumnya selalu, sembari memukul paha gw tiap ada obrolan yang bersifat komedi.
Melalui itu semua...gw tidak berusaha sedikit pun untuk berbasa-basi atau berusaha melakukan banyak kontak mata, gw tidak peduli kalo bahasa tubuh gw menunjukkan bahwa gw kurang nyaman. Hal ini yang kemudian gw buka ke Jo, kenapa semakin hari gw semakin ngga bisa berbasa- basi? Gw semakin payah untuk hal berpura- pura, bahkan gw semakin bodoh dalam berbohong, padahal bohong adalah salah satu kelihaian gw.
Here's what Jo said, it indicates that you are no longer care with other people's acceptance on you. Back then, we constantly behaved what people expect on us, in order to gain certain acceptance from them. With years have passed, whatever we came through has turned us into more secure person. Well..judging from what she said, it's pretty much a good thing right???....that...I'm not sure.
However, she has a point there. That kind of pretense...aahh I'm so sick and tired to do that stunt. These days, I'm behaving as what I really am..which is lead to new discovery. Turns out...I'm a Hello Kitty in a Lion King suit.
Selasa, 31 Maret 2009
Pre-Teen
Beberapa bulan yang lalu hari jadi gw datang, untuk kesekian kalinya, usia gw bertambah lagi satu tahun. Hmm...kesannya biasa aja..age's nothing but a number and if I may add..28 is the new 25 people! Insecurity stroke me a bit, I (unconsciously) try to look younger than my age, in my defend..I'm plainly wearing effortless look. Magically people around me are getting this vibe, they notice that my attitude some what classified as "ABG"...though I talk none like them (sometimes it just slip right out of my mouth) but to be frank I'm comfortable with the way I am.
Another story, I'm, at this moment..caught up in some school yard love, uughhh disgusting. This guy I knew from the old days and we kinda spend lot of time together. At first we were just two old friends catching up few stories..one thing led to another...now we update our activities to each other, ah sounds familiar huh? The thing is, if we're in grade school, he'll be yanking my hair and acting jerk, I'll sadly be like hating it and flattered at the same time and you stuck in that situation where the relationship becomes undefined, you know how that work. It's been a while since I have this storm of feelings, the up and down waiting for his call or message, that excitement of meeting him, the effort and energy, and he's such a persistent...and I like that. Despite all of the hassle, nagging, and yelling (yes, we have weird way of communicating)...I'm enjoying the time, he makes me laugh and most importantly...he makes me comfortable.
Well anyhow, no matter how this will turn out later, I'd thank him, thank him for keeping me out of desperation. For a while there, I thought that I was losing my sanity. And mainly, I thank him for putting me to the place where evidently I still believe in love.
Another story, I'm, at this moment..caught up in some school yard love, uughhh disgusting. This guy I knew from the old days and we kinda spend lot of time together. At first we were just two old friends catching up few stories..one thing led to another...now we update our activities to each other, ah sounds familiar huh? The thing is, if we're in grade school, he'll be yanking my hair and acting jerk, I'll sadly be like hating it and flattered at the same time and you stuck in that situation where the relationship becomes undefined, you know how that work. It's been a while since I have this storm of feelings, the up and down waiting for his call or message, that excitement of meeting him, the effort and energy, and he's such a persistent...and I like that. Despite all of the hassle, nagging, and yelling (yes, we have weird way of communicating)...I'm enjoying the time, he makes me laugh and most importantly...he makes me comfortable.
Well anyhow, no matter how this will turn out later, I'd thank him, thank him for keeping me out of desperation. For a while there, I thought that I was losing my sanity. And mainly, I thank him for putting me to the place where evidently I still believe in love.
Jumat, 13 Februari 2009
Anti Mainstream!!
Kemaren nyokap mem-forward email dari temen kuliahnya jaman jebot. Isinya ngga jauh tentang hay apa kabar gitu, ternyata teman lama ini dulunya sering didaulat jadi baby sitter gw. Nyokap gw dulunya termasuk yang cepat kawin, eh tapi tanpa gelar MBA loh yaw (as in MarriedByAccident). Begitu gw lahir, nyokap masih menjabat mahasiswa UI, sehingga pada prakteknya gw kerap dikewer- kewer ke kampusnya. Nah jadinya si tante ini yang jagain gw kalo nyokap lagi mengenyam ilmu. Rupanya mereka berdua ketemu lagi di Facebook. Tante seneng banget dengan fasilitas networking ini, dia muji inventornya sampe beberapa kali. Dan gw memang menemukan perubahan positif di nyokap, dia jadi stay tuned terus di depan komputer, ngga berhenti nulis sesuatu di wall temen- temennya, dan dia jadi ter-update selalu dengan gosip terbaru angkatannya. Dia jadi pengguna facebook sejati.
All of these remind me of this conversation I had sometime ago.
Waktu itu gw lagi makan bersama..ehm..teman gw. Dia yang makan sih, gw sruputin teh botol. Tercetus bahwa dia tidak menyukai Facebook karena hal itu terlalu happening dan mainstream. Mainan yang sangat populer, hampir semua orang melakukannya dan menyukainya. Dia memang mengakui kalo dia punya account di facebook, tapi hanya untuk "Pengen tau aja". Temannya pun cuma satu orang. Lebih jauh dia merepet,
"Apa sih yang bedain Friendster dengan Facebook, toh sama aja, liat aja nanti juga Facebook nasibnya sama kayak Friendster. Apa coba bedanya??..Ngga ada kan"
Gw berpikir keras sat itu, harga diri sedikit tersentil, sekenanya gw jawab,
"Yah abis tampilannya lebih menarik sih"
Argumen yang lemah, akhirnya gw tambahin
"Orang- orang yang suka dengan Facebook, kebanyakan tu orang- orang yang butuh akan fungsinya, yaitu networking. Atau mungkin personal branding"
Dalam hati sih tau, ni orang pasti akan berargumen lagi
"Nggalah, sama aja kok. Bisa apply lagu, video, posting ini itu, kasih komentar, status, iyakan?! Sama aja sebenernya"
Yaudahlah, gw ngga mengiyakan, gw juga ngga bales pernyataan dia. Padahal gw yakin, alasan dia salah, otomatis pernyataan dia ngga kuat, tapi orang bebas berpendapat toh?? Masalahnya, gw ga hebat dalam hal semacam ini, ngga ahli dalam subjek permasalahannya. Malah takut nanti jadi kesannya sok tawu.
Apa yang gw tangkap dari orang ini, dia tidak (atau mungkin belum) menerima keberadaan Facebook ini, hanya karena semua orang mengetahui dan menyukainya. Dia anti mainstream. Kok...kedengarannya....arogan sekali. Sejujurnya, gw juga seperti ini, untuk beberapa tren gw juga suka males ngikutin cuma karena orang udah banyak yang mengaplikasikannya, contoh: blackberry, faktor bajet dan belom butuh juga sih. Sebenarnya NPWP juga "happening" banget loh tahun lalu, semua orang bikin NPWP, beberapa karena diancam denda 20% dari penghasilan, beberapa membayangkan fiskal gratis, beberapa karena peer pressure. Gwpun termasuk salah satu pemilik NPWP karena iming- iming fiskal gratis.
Terserahlah apa yang orang itu pikirkan. Tren diikuti bukan untuk sekadar eksistensi. Di balik itu ada fungsi dan peran juga kok ternyata. Dan selama diperlukan, gw akan mendukung Facebook, karena gw perlu dan Facebook membuat nyokap gw tertawa.
All of these remind me of this conversation I had sometime ago.
Waktu itu gw lagi makan bersama..ehm..teman gw. Dia yang makan sih, gw sruputin teh botol. Tercetus bahwa dia tidak menyukai Facebook karena hal itu terlalu happening dan mainstream. Mainan yang sangat populer, hampir semua orang melakukannya dan menyukainya. Dia memang mengakui kalo dia punya account di facebook, tapi hanya untuk "Pengen tau aja". Temannya pun cuma satu orang. Lebih jauh dia merepet,
"Apa sih yang bedain Friendster dengan Facebook, toh sama aja, liat aja nanti juga Facebook nasibnya sama kayak Friendster. Apa coba bedanya??..Ngga ada kan"
Gw berpikir keras sat itu, harga diri sedikit tersentil, sekenanya gw jawab,
"Yah abis tampilannya lebih menarik sih"
Argumen yang lemah, akhirnya gw tambahin
"Orang- orang yang suka dengan Facebook, kebanyakan tu orang- orang yang butuh akan fungsinya, yaitu networking. Atau mungkin personal branding"
Dalam hati sih tau, ni orang pasti akan berargumen lagi
"Nggalah, sama aja kok. Bisa apply lagu, video, posting ini itu, kasih komentar, status, iyakan?! Sama aja sebenernya"
Yaudahlah, gw ngga mengiyakan, gw juga ngga bales pernyataan dia. Padahal gw yakin, alasan dia salah, otomatis pernyataan dia ngga kuat, tapi orang bebas berpendapat toh?? Masalahnya, gw ga hebat dalam hal semacam ini, ngga ahli dalam subjek permasalahannya. Malah takut nanti jadi kesannya sok tawu.
Apa yang gw tangkap dari orang ini, dia tidak (atau mungkin belum) menerima keberadaan Facebook ini, hanya karena semua orang mengetahui dan menyukainya. Dia anti mainstream. Kok...kedengarannya....arogan sekali. Sejujurnya, gw juga seperti ini, untuk beberapa tren gw juga suka males ngikutin cuma karena orang udah banyak yang mengaplikasikannya, contoh: blackberry, faktor bajet dan belom butuh juga sih. Sebenarnya NPWP juga "happening" banget loh tahun lalu, semua orang bikin NPWP, beberapa karena diancam denda 20% dari penghasilan, beberapa membayangkan fiskal gratis, beberapa karena peer pressure. Gwpun termasuk salah satu pemilik NPWP karena iming- iming fiskal gratis.
Terserahlah apa yang orang itu pikirkan. Tren diikuti bukan untuk sekadar eksistensi. Di balik itu ada fungsi dan peran juga kok ternyata. Dan selama diperlukan, gw akan mendukung Facebook, karena gw perlu dan Facebook membuat nyokap gw tertawa.
Langganan:
Postingan (Atom)
